Tuesday, January 02, 2007

PERANAN SURAT KABAR DAN TELEVISI DALAM AGENDA-SETTING

Rangkuman dan komentar atas tulisan Chaim H. Eyal

Penelitian-penelitian tentang agenda-setting mengungkapkan hubungan antara isu-isu dan hal-hal yang secara sangat mencolok ditayangkan dalam media massa (agenda media) dengan persoalan-persoalann yang dianggap penting yang ada dalam pikiran (agenda publik). Kajian tentang agenda-setting menunjukkan ada perbedaan hasil penelitian di antara para peneliti.

Pertama, hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara dua jenis media yang berbeda seperti telivisi dan surat kabar. Studi semacam ini berasumsi bahwa media massa merupakan suatu entitas yang homogen yang berpengaruh atas publik (McCombs and Shaw, Hong and Shemer, Sanders and Atwood, Carey, dan Hilker).

Kedua, sementara peneliti lain menemukan bahwa fungsi agenda-setting surat kabar lebih efektif dari pada televisi. Agenda-agenda media cetak sering ditemukan lebih sesuai dengan agenda publik dibandingkan dengan agenda media siaran (teleivis atau radio) (Tipton dkk., Benton and Frazier, McClure and Patterson, Weaver, dan Mullins).

Ketiga, dua peneliti lainnya yaitu Palmgreen dan Clarke (1971) menemukan dukungan terbatas dari hipotesis bahwa surat kabar menampilkan agenda setting lebih kuat dari pada televisi. Kedua orang ini menemukan bahwa mengenai isu-isu lokal, surat kabar memiliki pengaruh yang kuat. Sedangkan televisis, sebagaimana diharapkan secara logis, sama sekali tidak memiliki pengaruh.

Inkonsistensi dalam konsep dan pengukuran

Secara keseluruhan penelitian menyangkut agenda setting meperlihatkan adanya inkonsistensi dalam pengukuran dan konseptualisasi. Sebagian besar dari persoalan ini bersifat metodologis. Artinya sulit, bukannya tidak mungkin, untuk menyebutkan dua kajian yang menggunakan metodologi yang sama. Definisi operasional, kondisi-kondisi kontinjen, dan variabel-variabel penting akan berbeda dari satu kajian ke kajian lainnya sedemikian banyaknya sehingga jawaban dan pembukitan yang benar menjadi sulit untuk ditemukan.

Namun demikian tidak adanya uniformaitas dalam pendekatan dan dalam konseptualisasi justru mencegah munculnya kesimpulan yang sama mengenai fungsi agenda setting dari dua media yang berbeda (cetak, dan elektronik sepertti televisi). Penelitian agenda-setting terbaru tampaknya menghasilkan suatu arah yang baru dan berbeda dari pada sebelumnya. Arah yang baru dalam penelitian ini dinilai sebagai prematur karena perbedaan dasar antara surat kabar dan televisi belum diungkapkan secara jelas, dan peran-peran dari berbagai variabel kontekstual, anteseden, dan intervening belum dianalisis secara sistematis.

Perbedaan ini menjadi tampak kalau kita membandingkan hasil kajian dari tiga kelompok peneliti sebagaimana telah disebutkan yang semuanya menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda. Kelompok pertama, McCombs dan Haws, menemukan tidak ada perbedaan antara efek agenda setting dari surat kabar dan televisi. Kelompok peneliti berikutnya (Titon, Haney, dan Baseheart) menemukan adanya peran agenda setting untuk surat kabar tetapi tidak untuk televisi. Sementara kelompok peneliti lainnya (Palmgreen dan Clarke) menemukan hanya dukungan parsial terhadap hipotesis bahwa surat kabar menunjukkan efek agenda-setting yang lebih kuat dari pada televisi. Tiga kelompok kajian ini juga berbeda dalam aspek metodologi dan konseptualisasi. Selain itu, ketiga kelompok kajian ini juga memiliki pemahaman atau perumusan yang berbeda tentang apa yang membentuk agenda publik. Konseptulisasi agenda publik menurut McCombs dan Shaw adalah apa yang dinamakan intra-personal agenda; sementara dua kelompok lainnya memahami konsep agenda publik sebagai perceived community agenda.

Analisis parsial mengenai Content (isi) televisi

Dalam kajian mereka tentang pemilihan presiden (Amerika serikat) pada tahun 1972, Patterson dan McClure menyimpulkan bahwa berita televisi memiliki pengaruh minimal terhadap kesadaran publik tentang isu-isu dan persepsi tentang image kandidat presiden. Sebaliknya, mereka menemukan bahwa iklan-iklan politik yang muncul di televisi justru dinilai sebagai faktor yang menjelaskan meningkatnya kesadaran audiens terhadap posisi dari kandidat presiden. Pendapat ini sesuai dengan penemuan Shaw dan Bowers bahwa iklan politik pada televisi memainkan sebuah peran agenda-setting yang berbeda dari pada informasi-informasi televisi.

Bowers (1977) melaporkan hasil yang sama, tetapi ia melakukan analisis yang lebih lanjut. Membandingkan agenda mengenai isu-isu yang disampaikan dalam surat kabar lokal dengan agenda iklan tentang kandidat presiden, ia menemukan tidak ada korelasi yang signifikan. Tetapi sebuah korelasi rendah ditemnukan antara agenda iklan kandidat-kandidat presiden dan agenda berita televisi. Penemuan ini mengungkapkan bahwa, dari sudut pandang metodologis, menarik kesimpulan tentang peran agenda setting televisi yang hanya berdasarkan pada berita adalah tidak dapat dinilai atau diukur karena iklan televisi dan berita, memiliki efek-efek yang berbeda - kadang-kadang saling independen.

Selain iklan politik, televisi menyediakan informasi dalam program khusus, ringkasan berita singkat,program-program yang terarah pada isu-isu yang terkini, dan yang reguler, talk-show,dan bahkan komedi-komedi situasional. Pada lain pihak, agenda-agenda surat kabar biasanya ditentukan berdasarkan analisis isi yang lebih luas, yang kadang-kadang meliputii juga editoerial, surat-surat kepada editor, kartun, dst. Pandangan ibi didukung oleh penemuan Bowers bahwa terpaan televisi terkait dengan terpaan pada iklan-iklan dan mungkin sebagian besar karena terpaan insidental.

Menurut McCombs, jika program berita televisi analog dengan laporan peristiwa sehari-hari pada halaman depan surat kabar, maka analogi itu menjadi masuk akal kalau dalam membandingkan kedua media itu hanya halaman depan surat kabar saja yang harus diperhitungkan dalam perbandingan itu. Meskipun demikian, karena halaman depan merupakan indikator media publik yang lebih baik dari pada halaman-halaman lain, namun analisis yang demikian akan mengungkapkan sebuah pengaruh agenda-setting surat kabar yang bahkan lebih kuat. Suatu pendekatan yang lebih realistik didasarkan pada analisis tentang keseluruhan isi yang relevan dari kedua jenis media itu. Memang diakui bahwa pendekatan semacam itu merupakan suatu usaha yang lama dan membosankan. Tetapi jika tidak demikian, maka hasil-hasil penelitian harhus secara jelas menyatakan bahwa perbedaan-perbedan yang ditemukan antara kedua jenis media itu didasarkan pada kajian tentang surat kabar dan berita-berita televisi dari pada tentang surat kabar dan televisi.

Penjelasan alternatif

Kendatipun tidak menguji secara langsung hipotesis agenda-setting, Carey (1976) mengkaji agenda setting dari tiga jaringan televisi nasional, tiga majalah nasional, dan tiga surat kabar nasional. Dalam analisisnya ia menemukan bahwa “peliputan pers lintas media (Televisi, surat kabar, dan majalah) itu berlaku sangat konsisten”. Jadi di dalam kerangka agenda-setting, tampaknya logis bahwa agenda dari media yang serupa akan menghasilkan dampak serupa pada agenda audiens. Jika efek yang dihasilkan itu tidak sama, maka pengaruh yang berbeda dari kedua media itu dapat dijelaskan oleh faktor-faktor seperti hakekat teknologi dari surat kabar versus televisi, ketidaksamaan mereka dalam hal format mereka yang baru, dan oleh faktor komposisi audiens dan pola-pola penggunaan media oleh audiensnya. Proposisi yang terakhir ini menunjukkan bahwa berbagai media dapat menghasilkan pengaruh tersendiri sebagai hasil dari sumbangan dari variabel-variabel yang memiliki hubungan dengan audiens seperti: kebiasaan penggunaan waktu, kebiasaan penggunaan media, durasi terpaan, minat, dan kredibilitas diferensil yang terkait dengan setiap sumber berita.

Dalam pandangan beberapa peneliti dalam penelitian tentang agenda-setting tlevisi versus surat kabar, fakotr media itu sendirilah yang menciptakan perbedaan agenda-setting. Sebuah penjelasan yang luas yang meliputi varibel-variabel yang terkiat dengan audiens jarang dilakukan secara sistematis dan konsisten.

Beberapa catatan dan komentar

Pertama, ulasan tentang agenda-setting antara televisi tidak hanya memiliki manfaat secara akademis untuk mengetahui seberapa besar perbedaan pengaruh mereka tetapi juga bermanfaat untuk kepentingan sosial-praktis walaupun penjelasan yang ditampilkan cenderung pada segi akademis dan metodologisnya. Artinya bagaimana kekuatan media baik televisi maupun surat kabar dapat digunakan untuk mempengaruhi persepsi serta kesadaran dan bahkan juga penilaian terhadap berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan sosial melalui upaya merancang apa yang disebut sebagai “agenda-setting” tadi.

Kedua, tulisan ini lebih terfokus pada agenda setting televisi dan surat kabar. Jenis media lain seperti radio yang sebenarnya kehadirannya sudah mendahului televisi tidak disinggung. Padahal sebagian besar masyarakat terutama di negara-negara berkembang yang hidup di tempat-tempat yang jauh dari pusat keramamian dan pusat perkembangan peradaban, radio merupakan sarana komunikasi yang paling utama bagi mereka. Karena itu kajian ini, dalam arti tertentu, belum memadai untuk mengungkap peran media melalui agenda-setting yang bisa mempengaruhi agenda-audiens.

Ketiga, topik pembahasan tentang agenda-setting berdasarkan hasil penelitian sejumlah ahli ternyata menghasilkan sejumlah pendapat yang berbeda-beda tentang pengaruh dari kekuatan agenda-setting terhadap agenda-audiens. Kenyataan ini semakin menggarisbawahi atau mempertegas pendirian dalam ilmu-ilmu sosial termasuk komunikasi bahwa realiatas sosial itu memang jauh lebih kompleks dan rumit dibandingkan dengan realitas alam fisik. Aneka faktor atau variabel selalu turut berperan untuk ikut memberikan pengaruh pada kenyataan yang hendak dijelaskan.

Keempat, adanya perbedaan pendapat dalam kajian tentang agenda-setting media khususnya televisi dan surat kabar juga secara eksplisit maupun implisit mengungkapkan beberapa kenyataan lain yang perlu disimak yaitu: adanya dinamika dalam penelitian dan sekaligus mengarah pada perkembangan dan pemahaman yang lebih baik tentang soal agenda seting media; dan kenyataan bahwa pengaruh dan kekuatan agenda-setting media itu ditentukan bukan hanya oleh media (teleivis dan surat kabar) tetapi juga oleh pengaruh faktor lain seperti audiens dan faktor-faktor yang terkait dengan audiens sendiri. ***

No comments:

 This blog migrated to https://www.mediologi.id. just click here