Posts

Showing posts from June 10, 2007

Jaman Edan!!!!!

Image

Statistik pornografi

Percaya nggak percaya, diakses dari majalah online Good Magazine·12% situs di dunia ini mengandung pornografi.·25% yang dicari melalui search engine adalah pornografi.·35% dari data yang diunduh dari internet adalah pornografi.·Setiap detiknya 28.258 pengguna internet melihat pornogafi.·Setiap detiknya $89.00 dihabiskan untuk pornografi di internet.·Setiap harinya 266 situs porno baru muncul.·Kata “sex” adalah kata yang paling banyak dicari di internet.·Pendapatan US dari pornografi di internet tahun 2006 mencapai $2.84 milyar.·Pengguna pornografi di internet 72% pria dan 28% wanita.·70% traffic pornografi internet terjadi pada hari kerja jam 9.00 – 17.00.·Diperkirakan kini ada 372 juta halaman website pornografi.·Website pornografi diproduksi 3% oleh Inggris, 4% oleh Jerman, dan 89% oleh US.·Website pornografi yang traffic-nya paling tinggi: AdultFriendFinder, menduduki peringkat ke-49 dengan 7.2 juta pengunjung.·Negara-negara yang melarang pornografi: Saudi Arabia, Iran, Bahrain, Me…

Relax dulu Ah!!!!!!!!!!!

Image

Remaja, Gaya dan Selera

Oleh
ANTARIKSA Dalam ilmu-ilmu sosial, studi atas remaja pertama kali dilakukan oleh sosiolog Talcott Parsons pada awal 1940-an. Berbeda dengan anggapan umum bahwa remaja adalah kategori yang bersifat alamiah dan dibatasi secara biologis oleh usia, menurut Parsons remaja adalah sebuah sebuah konstruksi sosial yang terus-menerus berubah sesuai dengan waktu dan tempat (Barker 2000). Para pemikir kajian budaya juga berpendapat konsep remaja bukanlah sebuah kategori biologis yang bermakna universal dan tetap. Remaja, sebagai usia dan sebagai masa transisi, tidak mempunyai karakteristik-karakteristik umum. Karena itu pertanyaan-pertanyaan yang akan selalu muncul adalah: secara biologis, kapan masa remaja dimulai dan berakhir? Apakah semua orang yang berumur 17 tahun sama secara biologis dan secara kultural? Kenapa remaja di Jakarta, Singapura, dan London tampak berbeda? dsb. Remaja adalah sebuah konsep yang bersifat ambigu. Kadang bersifat legal dan kadang tidak. Di Indonesia misalnya, ukura…

Dalam Ruang Pribadi Penonton: Romantisme dan Ekonomi Politik Sinetron Indonesia

Oleh
NURAINI JULIASTUTI Televisi memang telah jadi perhatian studi-studi kebudayaan sejak lama, dan menurut saya memang tidak ada media lain yang menyamai televisi dalam hal besarnya volume teks-teks budaya populer yang dihasilkan. Rasanya, televisi selalu mampu melahirkan bagian-bagian baru yang menarik untuk diamati dan dianalisa, mulai dari siaran berita, iklan televisi, sinetron, film televisi, talk show , kuis-kuis, acara musik, dan sebagainya. Dengan demikian televisi juga merupakan ruang eksperimen yang menarik bagi para ilmuwan sosial untuk mencobakan berbagai macam metode dan teori sebagai pisau dan alat-alat untuk menganalisa persoalan kebudayaan. Karenanya, banyak hal yang harus dipahami dari televisi. Mulai dari teks, hubungan antara teks dan penonton, aspek ekonomi-politik yang melingkupinya, hubungan televisi dengan aspek-aspek lain diluarnya, sampai pola makna budaya yang ada dalam televisi. Tulisan ini akan melakukan analisa terhadap sinetron sebagai bagian dari dunia t…

Dominasi Budaya Politik Istana dalam Ruang Redaksi

OlehDedy N. Hidayat, Ph.D
Bila Anda datang ke suatu negeri di mana koran dan televisi hanya dijejali berita-berita baik, maka janganlah ragu bertaruh: pasti banyak orang baik-baik di negeri itu yang dijejalkan ke penjara. Kurang lebih begitulah senator Daniel Moynihan melukiskan pengaruh suatu budaya politik yang represif dengan praktik dan rutinitas profesional para pekerja sektor industri budaya beserta realitas simbolis yang mereka olah menjadi komoditas. BUKU karya Angela Romano, dosen jurnalisme di Queensland University of Technology, Politics and The Press in Indonesia: Understanding an Evolving Political Culture, RoutledgeCurzon: 2003, pada intinya juga mendiskusikan bagaimana dinamika falsafah dan budaya politik yang dominan di Indonesia (macro-culture), telah menyentuh dan mempengaruhi journalistic culture (yang ia tempatkan sebagai micro-culture), baik yang menyangkut rutinitas praktik jurnalistik ataupun persepsi diri jurnalis-sebagai interpretive communities-tentang profesi…