Posts

Showing posts from October 8, 2017

Post-Structuralist Feminist Discourse

What Is Post-Structuralist Feminist Discourse ?
In recent years, a number of doctoral and post-doctoral students have begun to explore and experiment with the use of a new theoretical and methodological approach to gender and language study: that of Feminist Post-Structuralist Discourse Analysis (FPDA). While there is a growing international interest in the FPDA approach, it is still relatively unknown in the wider community of discourse analysts. There is little published work as yet which directly draws on FPDA, but much fascinating work in the pipeline. At the moment, it is just a small fish in the big sea of discourse analysis; its future is far from certain and it may well be swallowed up whole by larger varieties, or choose to swim with the tide of Critical Discourse Analysis, which to some extent it resembles. 



Mahabarata: Depiksi Kehadiran Tuhan dalam Dialektika Kemanusiaan (Perspektif Zizek)

Oleh: Alvin Dwi Saputra
Pendahuluan Mahabarata adalah kisah warisan dunia yang berasal dari India. Mahabarata banyak memuat suri tauladan akan kejujuran, kepahlawanan, dan kebenaran. Di Indonesia, Mahabarata ialah kisah keteladanan yang telah diwariskan dari masa ke masa. Pada masa peradaban Hindu terdahulu, pujangga Jawa telah meresapi kisah Mahabarata dan mengasimilasikannya dengan budaya setempat. Meskipun telah dimodifikasi, kisah Mahabarata di Jawa tidak berbeda jauh dengan kisah Mahabarata di India. Mahabarata merupakan penceriteraan tentang perseteruan antara para Pandawa dan saudaranya para Kurawa. Ikatan persaudaraan antara Pandawa dan Kurawa terbentuk karena ayah dari Pandawa, yakni Pandu, adalah adik dari Drestarata, ayah para Kurawa. Para Pandawa bukan merupakan putra Pandu secara langsung, melainkan atas anugrah para Dewa. Ketika itu, Pandu tidak dapat memiliki anak dari kedua istrinya, yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Meskipun demikian, Dewi Kunti memiliki kemampuan untuk…

Framed and Mounted: Sport on The Photographic Eyes

Jennifer Hargreaves (1993) menyatakan, bahwa majalah dan koran olahraga semakin berkembang dan semakin banyak jumlahnya. Tapi yang selalu terlihat untuk atlit wanita adalah sisi feminiti nya dibandingkan dengan sisi atletik/olahraga nya. Contoh, ada atlit wanita dan atlit pria yang berfoto bersama dalam satu frame, namun atlit pria yang lebih mendominasi atau menonjol dan atlit wanita seperti pendukung; foto atlit pria yang dikelilingi dan dikagumi oleh banyak wanita-wanita disekililingnya; foto atlit wanita yang sedang menangis terharu dan di rangkul atau dekati oleh suami atau kawanan atlit lainnya; yang mana sama sekali tidak menunjukkan keterkaitannya dengan olahraga; dalam konteks domestik, hamil atau mempunyai anak; dan foto-foto dari atlit wanita yang lebih menonjolkan dari sisi make up, hair do, dan wardrobe.  Momen-momen epicolahraga, dari proses, puisi, gambar bergerak, hal-hal yang paling dikenang hanya dapat ditangkap dan masih oleh fotografi.Pandangan mengenai ‘frozen i…