Posts

Showing posts from December 31, 2006

Teori tanggung jawab sosial

Teori tanggung jawab sosial adalah respons terhadap kebuntuan liberalisme klasik di abad ke-20. Dalam laporan Hutchins Commision di tahun 1947, teori tanggung jawab sosialmenerima banyak kritik dari sistem mdia laissez-faire. Keritik ini menyatakan adanya kecenderungan monopoli pada media, bahwa masyarakat atau publik tidak kurang memperhatikan dan tidak berkepentingan dengan hak-hak atau kepentingan golongan di luar mereka, dan bahwa komersialisasi menghasilkan budaya rendah dan politik yang serakah. Teori tanggung jawab sosial menyatakan bahwa media harus meningkatkan standar secara mandiri, menyediakan materi mentah dan pedoman netral bagi warga negara untuk mengatur dirinya sendiri. Hal ini sangat penting bagi media, karena kemarahan publik akan memaksa pemerintah untuk menetapkan peraturan untuk mengatur media. Teori tanggung jawab sosial dirumuskan pada saat Amerika mengalami masa “kapitalisme akhir”. Sebleum PD II, organisasi-organisasi berita ternama di Amerika berada dalam do…

Pengaruh media hiburan

Pesan-pesan yang menarik mampu memuaskan responden karena karakteristik intrinsik yang unik. Nikmatnya sebuah drama, komedi dan olahraga dipengaruhi oleh berbagai variabel. Tapi tidak ada yang bisa mengontrol kenikmatan hiburan sekuat dan seuniversal interaksi antar beberapa pihak, terutama pihak-pihak yang menghadapi permasalahan, konflik dan kondisi yang tidak menyenangkan. Pertunjukan konflik merupakan dasar dari drama yang baik (Smiley, 1971). Fokus pada konflik hanya merupakan titik awal. Penggambaran konflik yang menegangkan secara dramatis tidak serta mereta memuaskan khalayak. Kepuasan khalayak tidak bergantung penuh pada konflik tapi lebih pada resolusi masalah dan makna pemecahan masalah tersbut bagi pihak-pihak terkait. Kepuasan bergantung pada seberapa besar pihak yang mendapat keuntungan disukai dan seberapa besar pihak yang dirugikan tidak disukai dan dibenci. Drama yang baik, bergantung pada sentimen positif dan negatif atas pihak-pihak dalam konflik sejauh resolusi yan…

Revolusi komunikasi: berita, publik dan ideologi

Ada saling keterkaitan antara Era Ideologi – berkembangnya ideologi di abad ke 18 dan 19 – serta revolusi komunikasi yang didasarkan pada pengembangan teknologi cetak dan produksi barang-barang cetak. Morse Peckham menyatakan:Di tahun 1830, bidang penerbitan mengalami revolusi, barang-barang cetak menjadi murah – untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia tingkat melek huruf bisa meluas ke seluruh tingkatan populasi. Di Inggris populasinya berkembang dengan rasio satu banding empat; sementara tingkat golongan yang melek huruf berkembang dengan rasio 1 : 32. Hal ini tidak hany memepengaruhi produksi buku, tapi semua jenis komunikasi dan pendokumentasian yang melibatkan kertas – majalah, surat kabar, surat-surat; bisnis, pemerintahan dan korespondensi militer. … abad ke 19 mengalami revolusi komunikasi yang merupakan bagian dan hasil terpenting dari revolusi industri. Karenanya, terjadi perkembangan besar-besaran dalam informasi dikarenakan akeselerasi kesediaan materi cetak, surat kab…

Pelajaran Jurnalistik dari Infotainment

Oleh:Veven Sp. Wardhana
Hingga hari ini, tayangan infotainment di layar televisi Indonesia masih terhitung kontroversi. Dewan Pers - bersama Program the European Initiative for Democracy and Human Right [EIDHR] European Commision - dalam diskusi 21 November 2005 mempertanyakan apakah infotainment termasuk jurnalistik. Setahun kemudian, Universitas Paramadina Jakarta menggelar seminar dengan tema serupa. Sementara Persatuan Wartawan Indonesia [PWI] mengakui bahwa infotainment sebagai karya jurnalistik, sehingga PWI mengakomodasi jurnalis infotainment yang mendaftarkan diri ke dalam organisasi ini, sehingga secara resmi ada Departemen Infotainment sejak akhir Desember 2005.

Di luar diskusi Dewan Pers dan seminar Universitas Paramadina, ada yang merumuskan: infotainment dikategorikan jurnalistik, "hanya saja, ada jurnalistik bagus dan tak bagus". Dan "infotainment termasuk yang tak bagus." Yang lain menyatakan: infotainment terlalu memasuki wilayah privasi, sementara - …

"Without Media There Can Be No Terrorism!"

HANYA beberapa jam usai tragedi bom di Hotel JW Marriott, Ramadhan Pohan, seorang wartawan Indonesia yang masih menempati posnya di Washington DC, Amerika Serikat, menulis e-mail: "…Saya mengutuk keras para teroris yang-entah atas nama apa pun-keji membunuh korban-korban sipil yang tak punya urusan apa-apa dengan perjuangan dan ideologi mereka. Saya yakin, mereka tidak bertuhan dan amat tak berperikemanusiaan. Sebagai orang Indonesia di negeri asing, saya tak putus meratapi nasib Indonesia kini! Di tengah perekonomian yang masih lusuh, pemberontakan, dan setumpuk masalah lain, bom berkali- kali terjadi! Kita tak kapok, dan terlalu ramah menindak teroris. Media massa Indonesia juga terlalu lembek dalam menghujat dan menohok terorisme!"Selain pilihan kata-katanya yang lugas, yang paling penting di sini adalah fakta bahwa penulisnya seorang wartawan, bagian dari industri media; dan kebetulan cukup berpengalaman menyaksikan bagaimana media berinteraksi dengan terorisme di berbag…

Krisis Media Dalam Perspektif Konvergensi Telematika: Wacana Media untuk Penyempurnaan UU Pers.

OlehEdmon Makarim
A. Pendahuluan

Mungkin akan timbul suatu pertanyaan kenapa kita perlu memperhatikan penyempurnaan UU Pers dari sudut pandang hukum telematika, karena terkesan hukum telematika hanya akan lebih banyak mengkaji keberadaan segala aspek hukum yang terkait dengan perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika. Tambahan lagi telah banyak pihak yang sudah terlanjur berkonotasi bahwa lingkup pembicaraan hukum telematika adalah identik dengan istilah ”cyber law” hukum yang terkait dengan keberadaan dunia maya ataupun internet. Hal ini tidaklah sepenuhnya benar, karena jika kita cermati lebih dalam justru karena hasil dari perkembangan konvergensi telekomunikasi dan informatika itu sendiri maka belakangan semua orang baru menyadari bahwa telah terlahir suatu media baru yang bersifat multimedia (teks, suara, gambar/grafis, dan film) yang pada akhirnya menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk merenungkan kembali konsepsi hukum tentang informasi dan komunikasi sebagai akar…

Multimedia dan Hiburan

Image
A.PENDAHULUAN Definisi Multimedia Berikut ini perlu kita pahami dulu definisi mengenai Multimedia (menurut “Newton’s Telecom Dictionary, 15th edition”) : Multimedia adalah kombinasi dari beragam media komunikasi informasi. Multimedia memungkinkan bagi orang untuk berkomunikasi menggunakan penggabungan media; audio, video, tulisan, grafik, fax, dan telepon. Keuntungannya adalah komunikasi yang berkekuatan penuh. Kombinasi dari beberapa media seringkali menyediakan kelebihan, komunikasi informasi dan ide-ide yang lebih efektif daripada suatu single media seperti media tradisional dengan komunikasi berdasar teks yang dapat dikerjakan. Format komunikasi dari multimedia berbeda-beda, tetapi mereka biasanya menyertakan komunikasi suara (vocoding, speech recognition, speaker verification, and text to speech), audio processing (music synthesis, CD-ROMs), komunikasi data, image processing dan telekomunikasi yang menggunakan LANs, MANs, dan WANs dalam jaringan ISDN dan POTS. Teknologi multimedia …