Wednesday, June 02, 2010

Teori Media

Beberapa Teori Media yang bisa direkam sebagai rangkaian tinjauan kritis:

Media Theory

Monday, May 17, 2010

Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan Sabda (Pesan Paus pada hari Komunikasi Sosial 2010)

Saudara dan Saudariku Terkasih,

1. Tema Hari Komunikasi Sedunia tahun ini – Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan Sabda- disampaikan bertepatan dengan perayaan Gereja tentang Tahun Imam. Tema ini memusatkan perhatian pada komunikasi digital, suatu bidang pastoral yang peka dan penting, yang memberikan kemungkinan baru bagi para imam dalam menunaikan pelayanan kegembalaannya demi dan untuk Sabda. Berbagai komunitas Gereja sebenarnya telah menggunakan media modern untuk mengembangkan komunikasi, melibatkan diri dalam masyarakat serta mendorong dialog pada tingkat yang lebih luas. Akan tetapi penyebarannya yang tak terbendung serta dampak sosial yang besar pada jaman kini, media itu semakin menjadi penting bagi pelayanan imam yang berhasilguna.

2. Tugas utama semua imam adalah mewartakan Yesus Kristus, Sabda Allah yang inkarnasi dan mengkomunikasi rahmat penyelamatan-Nya melalui sakramen-sakramen. Dihimpun dan dipanggil oleh Sabda, Gereja menjadi tanda dan sarana persekutuan yang Allah ciptakan dengan semua orang. Setiap imam dipanggil untuk membangun persekutuan dalam Kristus dan bersama Kristus. Disinilah terletak martabat yang luhur dan indah perutusan seorang imam, yang secara istimewa menjawabi tantangan yang ditampilkan oleh Rasul Paulus: ’Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.’…Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya jika mereka tidak percaya kepada Dia? Dan bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia jika mereka tidak mendengarkan tentang Dia? Bagaimana mereka mendengarkan tentang Dia jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya jika mereka tidak diutus? (Rom 10:11, 13-15).

3. Menggunakan tekonologi komunikasi baru merupakan hal yang perlu dilakukan dalam menjawab secara tepat tantangan-tantangan yang dirasakan kaum muda di tengah pergeseran budaya masa kini. Dunia komunikasi digital dengan kemampuan ekspresi yang nyaris tak terbatas mendorong kita untuk mengakui apa yang disampaikan oleh St.Paulus:’celakalah aku jika aku tidak mewartakan Injil (1Kor 9:16). Kemudahan mendapatkan teknologi baru yang kian berkembang menuntut tanggungjawab yang lebih besar dari orang-orang terpanggil untuk mewartakan Injil serta termotivasi, terarah dan efisien menunaikan usaha-usaha mereka. Para imam berada di ambang ‘era baru’: karena semakin intensifnya relasi lintas batas yang dibentuk oleh pengaruh media komunikasi, demikian pula para imam dipanggil untuk memberikan jawaban pastoral dengan menempatkan media secara berdaya guna demi pelayanan Sabda.

4. Penyebaran komunikasi multimedia dengan ragam ‘menu pilihan’ tidak dimaksudkan untuk sekadar menghadirkan para imam di internet atau sekadar menjadikan internet ruang untuk diisi. Para imam diharapkan menjadi saksi setia terhadap Injil di dalam dunia komunikasi digital dengan menunaikan perannya sebagai pemimpin-pemimpin komunitas yang terus menerus mengungkapkan dirinya dengan ‘suara yang berbeda’ yang dihadirkan oleh pasaraya digital. Dengan demikian, para imam ditantang untuk mewartakan Injil dengan menggunakan generasi teknologi audiovisual yang paling mutakhir (gambar, video, fitur animasi,blog dan website) berdampingan dengan media tradisional dapat membuka wawasan baru dan luas demi dialog evangelisasi dan katekese.

5. Dengan menggunakan teknologi komunikasi baru, para imam dapat memperkenalkan kehidupan menggereja kepada umat dan membantu orang-orang jaman sekarang menemukan wajah Kristus. Hal ini akan dicapai dengan baik apabila mereka belajar –sejak dari masa pembinaan mereka- bagaimana memanfaatkan teknologi komunikasi secara kompeten dan cocok dengan pemahaman teologis yang mendalam dan spiritualitas imam yang kokoh, berakar pada dialog terus menerus dengan Tuhan. Dalam dunia komunikasi digital, para imam -lebih dari sekadar sebagai ahli media- seharusnya mengungkapkan kedekatannya dengan Kristus untuk memberikan ‘jiwa’ baik bagi pelayanan pastoralnya maupun bagi aliran komunikasi internet yang tak terbendung.

6. Kasih Allah kepada semua orang dalam Kristus mesti diungkapkan dalam dunia digital bukan sekadar sebagai benda purba atau teori orang terpelajar tetapi sebagai sesuatu yang sungguh nyata, hadir dan melibatkan diri. Oleh karena itu, kehadiran pastoral kita di dalam dunia yang demikian harus bermanfaat untuk memperkenalkan orang-orang pada jaman sekarang teristimewa mereka yang mengalami ketidakpastian dan kebingungan, ‘bahwa Allah itu dekat, bahwa di dalam Kristus kita semua saling memiliki’ (Benediktus XVI, Address to the Roman Curia,21 December 2009)

7. Siapakah yang lebih baik dari seorang imam, yang sebagai abdi Allah dan melalui kemampuannya di bidang teknologi digital dapat mengembangkan dan menunaikan pelayanan pastoralnya , menghadirkan Allah secara nyata di dunia jaman sekarang dan menampakkan kebijaksanaan rohani masa lampau sebagai harta yang mengilhami usaha kita untuk hidup layak dimasa kini sambil membangun masa depan yang lebih baik? Kaum laki-laki dan perempuan religius yang bekerja di bidang media komunikasi memiliki tangggjawab istimewa untuk membuka pintu bagi berbagai pendekatan baru, mempertahankan mutu interaksi manusia, menunjukkan perhatiannya bagi individu serta kebutuhan rohaninya yang sejati. Dengan demikian, mereka dapat menolong kaum laki-laki dan perempuan pada jaman digital ini untuk merasakan kehadiran Tuhan, menumbuhkan kerinduan dan harapan serta mendekatkan diri pada Sabda Allah yang menganugrakan keselamatan dan membangun manusia secara utuh. Dengan demikian, Sabda Allah dapat berjalan melintasi berbagai persimpangan yang tercipta oleh simpangsiurnya aneka ragam ‘jalan tol’ yang membentuk ‘ruang maya’ dan menunjukkan bahwa Allah memiliki tempat-Nya yang tepat pada setiap jaman, termasuk di jaman kita ini. Berkat media komunikasi baru, Tuhan dapat menapaki jalan-jalan perkotaan kita sambil berhenti di depan ambang rumah dan hati kita dan mengatakan lagi: Lihatlah, Aku berdiri de depan pintu dan mengetuk, Jika ada yang mendengar suaraku dan membukakan pintu, Aku akan masuk ke dalam rumahnya dan makan bersama dia dan dia bersama aku” (Why.3:20)

8. Dalam Pesan tahun lalu, saya telah mendorong para pemimpin di dunia komunikasi untuk memajukan budaya menghormati demi nilai dan martabat manusia. Ini merupakan salah satu cara dimana Gereja dipanggil untuk menunaikan ‘palayanan terhadap budaya-budaya’ di ‘benua digital’ jaman sekarang. Dengan Injil di tangan dan di hati, kita mesti menegaskan lagi tentang perlunya mempersiapkan cara mengantar orang kepada Sabda Allah sambil memberikan perhatian kepada mereka untuk terus mencari bahkan kita harus mendorong pencarian mereka sebagai langkah awal evangelisasi. Kehadiran pastoral di dunia komunikasi digital justru mengantar kita untuk berkontak dengan penganut agama lain, dengan orang-orang tak beriman dan orang-orang dari berbagai budaya, menuntut kepekaan terhadap orang yang tidak percaya, putus asa dan yang memiliki kerinduan mendalam dan tak terungkapkan akan kebenaran abadi dan mutlak, Demikianlah seperti yang diramalkan oleh Nabi Yesaya tentang sebuah rumah doa bagi segala bangsa (bdk Yes 56:7), dapatkah kita tidak melihat internet sebagai ruang yang diberikan kepada kita – semacam ‘pelataran bagi orang-orang bukan Yahudi’ di Bait Allah Yerusalem- yakni mereka yang belum mengenal Allah?

9. Perkembangan dunia digital dan teknologi baru merupakan sumber daya yang besar bagi manusia secara keseluruhan dan setiap individu sebagai daya dorong untuk perjumpaan dan dialog. Akan tetapi perkembangan ini juga memberikan peluang besar bagi orang beriman. Tidak ada pintu yang dapat dan harus ditutup bagi setiap orang yang atas nama Kristus yang bangkit, memiliki komitmen untuk semakin mendekatkan diri kepada orang lain. Secara khusus bagi para imam, media baru ini memberikan kemungkinan pastoral yang baru dan kaya, mendorong mereka untuk melibatkan diri ke dalam universalitas perutusan Gereja, membangun persahabatan yang luas dan konkrit serta memberikan kesaksian di dunia jaman kini tentang hidup baru yang berasal dari mendengar Injil Yesus, Putra Abadi yang datang demi keselamatan kita. Seiring dengan itu, para imam mestinya mengingat bahwa keberhasilan utama dari pelayanan mereka datang dari Kristus sendiri, yang ditemukan dan didengar dalam doa, diwartakan dalam kotbah dan dihidupi lewat kesaksian; dan diketahui, dicinta dan dirayakan dalam sakramen-sakramen, khususnya sakramen ekaristi dan rekonsiliasi.

Untuk para imamku yang terkasih, sekali lagi saya mendorong anda untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan unik yang disumbangkan oleh komunikasi modern. Semoga Tuhan menjadikan kalian bentara-bentara Injil yang bersemangat di ‘ruang publik’ baru media dewasa ini.

Dengan penuh keyakinan, saya memohonkan perlindungan Bunda Maria dan Santo Yohanes Maria Vianey (Pastor dari Ars, Pelindung para imam) dan dengan penuh kasih saya memberikan kepada anda sekalian berkat apostolikku.

Vatikan, 24 Januari 2010, Pesta Santo Fransiskus de Sales.

Paus Benediktus XVI

Saturday, May 15, 2010

Teks, Makna, dan Audiens

Analisis tekstual merupakan suatu proses interpretasi dan analisis terhadap teks media apapun, khususnya memfokuskan pada bentuk dan konten, gaya, dan struktur dari media tersebut. kita akan melihat bahwa terdapat dominant reading atau makna untuk suatu teks. Dominant reading adalah makna dari suatu teks yang diterima oleh kebanyakan anggota audiens dan dapat ditentukan dengan meneliti kode tekstual dan konteks sosial atau sejarahnya. Kita juga akan melihat perbedaan makna akibat perbedaan konteks, kriteria kritikal, atau perspektif personal yang kita gunakan untuk pendekatan terhadap teks. Oleh karena itu, terdapat empat faktor yang saling tumpang tindih yang harus diperhitungkan: analisis—teks dari teks itu sendiri, konteks produksi, konteks distribusi, dan konteks audiens.

Sebagian orang berpendapat bahwa saat latar belakang pengetahuan dan konteks yang berbeda menjadi penting, apa yang sebenarnya menjadi inti permasalahan adalah teks itu sendiri. Analisis tekstual memfokuskan semata-mata pada konten tekstual dan proses tekstual yang digunakan. Teks memproduksi makna dengan menunjuk pada dunia di luar mereka dan dengan menggunakan kode representasi yang telah ada sebelumnya. Sebagai anggota audiens kita harus memiliki pengetahuan mengenai dunia sebenarnya yang ditunjuk oleh teks dan pengetahuan konvensi dari medium teks. Bagaimana suatu teks diinterpretasikan mengacu pada koden dan konvensi yang digunakan oleh teks di dalam produksinya. Untuk mengetahui makna suatu teks, kita memulainya dengan mengacu pada konteks teks, tetapi tetap memfokuskan pada teks itu sendiri. Dalam hal ini, pendekatan semiotik dan strukturalis bekerja.

Akan sangat membantu apabila kita mengetahui proses aktual dari pembuatan teks. Hal ini akan mempermudah kita memahami makna dari teks dan memperjelas teks melalui beberapa cara. Kita dapat memulainya dengan mencari motivasi yang diakui dari elemen-elemen yang terlibat dalam produksi. Kita juga dapat mencoba untuk mengeksplor perhatian tidak sadar dari pembuat teks dengan cara mencari tahu detail personal yang penting dari kehidupan mereka untuk melihat apakah hal tersebut memperjelas teks. Pendekatan auteur theory merupakan salah satu contohnya. Pendekatan ini mengatakan bahwa film merupakan produk kreatif dari sutradara film dan dapat diinterpretasikan sebagai visi personal mereka, ditandai dengan gaya khas mereka yang unik. Pendekatan auteur terhadap film membantu mengelaborasi konteks produksi, tetapi pendekatan ini gagal untuk mengakui bahwa pembuatan film merupakan proses koloboratif yang melibatkan input kreatif dari banyak sumber termasuk dari pembuat skrip, pemain, dan kru. Kita juga dapat melihat kondisi produksi. Faktor sosial, politik, dan sejarah mungkin ikut menentukan hasil akhir dari suatu teks.

Karena konteks suatu teks mempengaruhi makna teks tersebut, terdapat dua konteks utama yang perlu diperhatikan yaitu ruang dan waktu. Setiap teks disajikan dalam ruang media tertentu dan dalam ruang sosial yang lebih luas. Perbedaan ruang dapat mempengaruhi makna dari teks tersebut. teks tidak disajikan dalam keadaan isolasi, tetapi dikelilingi oleh teks-teks lain yang akan mempengaruhi pemaknaan kita. Norma sosial dan konvensi dari budaya apapun akan menjalin suatu keterkaitan dengan teks dan akan memproduksi pembacaan dan pemaknaan yang berbeda. Dalam konteks waktu, banyak teks yang diproduksi dengan menyesuaikan waktu-waktu khusus tertentu dan dikonsumsi atau diinterpretasikan pada waktu-waktu tersebut. Oleh karena itu, teks mempunyai konteks waktu yang spesifik yang berkontribusi pada makna mereka. Sebagai akibatnya, pembacaan tidak akan pernah selesai. Kita harus terbuka untuk menemukan faktor-faktor baru, seperti latar belakang informasi baru dan aspek yang berbeda dari konteks sosial dan sejarah, yang akan mempengaruhi pemaknaan kita. Semakin banyak informasi yang kita miliki, semakin dekat kita dapat memahami apa yang teks-teks tertentu maksudkan dan bagaimana teks-teks tersebut dapat memproduksi makna-makna yang dimaksud.

Reception studies membagi pembaca menjadi dua jenis, yaitu the inscribed reader (individu yang dikonstruksi oleh teks) dan the actual reader (individu yang menginterpreta-sikan teks). Penelitian mengenai audiens dibagi ke dalam dua cara, yaitu dalam hal efek dan penerimaan. Kajian efek melihat pada bagaimana audiens secara langsung dipengaruhi oleh media, sedangkan kajian penerimaan melihat pada bagaimana audiens aktif memilih dalam penggunaan media. Penelitian-penelitian ini pada akhirnya menggunakan dua area, yaitu kualitatif dan kuantitatif.

Terdapat beberapa variasi cara dalam memahami hubungan media—audiens, yaitu dengan metode direct effects, reinforcement, cultivation, desensitization, observational learning and cognitive scripts, dan uses-and-gratifications. Menurut model etnografis, pembaca dibagi menjadi tiga, yaitu: preferred readings (yang menerima apa yang disajikan tanpa bertanya), negotiated readings (yang menerima sebagian dari apa yang disajikan), dan alternative/ oppositional readings (yang menginterpretasikan teks berlawanan sepenuhnya dengan preferred readings).

Ide mengenai proyeksi menyatakan bahwa orang memproyeksikan perasaan tidak sadar mereka sendiri kepada orang atau objek lain. Oleh karena itu, jika kita mencoba untuk memahami bagaimana audiens memaknai teks, kita dapat menggunakan ide dari proyeksi dan berpendapat bahwa seitap pemaknaan seseorang terhadap teks merupakan suatu refleksi dari diri mereka. Hal ini dikarenakan mereka memproyeksikan ide dan perasaan mereka sendiri terhadap teks tersebut. Perasaan dan kepercayaan sadar dan tidak sadar kita akan terefleksikan dalam cara kita menginterpretasikan suatu teks.

Jika pembacaan secara murni berasal dari pembacanya, maka pembacaan ter-tentu mungkin kecil terpengaruh nilai-nilai tertentu dalam menentukan makna. Kita dapat meyakini bahwa pembacaan tertentu terhadap sebuah teks dapat dihasilkan dari memberi perhatian khusus terhadap kode-kode dan konvensi, struktur, dan komposisi dari bagian-bagian, dengan memperoleh pengetahuan mengenai konteks budayanya, dan meneliti apakah makna yang kita peroleh dari teks juga beresonansi bagi pembaca lainnya.

Monday, May 10, 2010

MASA DEPAN MEDIA

1. KONSEP – FETISISME
Masing – masing dari istilah – istilah itu memiliki sesuatu untuk beberapa penawaran lebih dari yang lain, tergantung pada fokus intelektual seseorang dan selera pribadi. Biasanya mengambil bentuk dari yang berpegangan pada salah satu dari mereka sebagai ide-master dan hampir semua mantra keagamaan yang konon menawarkan pendapat pribadi unik hermeneutika.
Perdebatan ini memungkinkan untuk menjadi salah satu energik karena orang berpikir bahwa mereka berdiri di atah tanah yang sama. Jika kesuksesan adalah istilah yang tepat atas apa yang terjadi, sebagian disebabkan oleh ketidakjelasan mereka, yang seharusnya membuat definisi bisnis mereka menjadi sangat menekan, tapi juga jarang melakukannya.

2. PERBANDINGAN PENELITIAN
Perbandingan penelitian hampir merupakan proyek baru. Tetapi harus dikatakan bahwa setidaknya sampai baru – baru ini di media komunikasi dan penelitian sangat dekat dengan global yang terjadi dan komparatif untuk mendapatkan penghargaan yang jauh kebih dalam daripada ketaatan pelanggaran tersebut. Untuk alasan jelas tentang temuan logistik dan apa yang mengerikan adalah kesiapan bagi banyak peneliti untuk meramalkan kemungkinan dengan implikasi dari temuan mereka tentang satu negara atau bagian dari itu semua.
Tidak semua orang diakui, baik dalam mempelajari bahasa lain, tetapi di banyak bagian dunia bahkan seluruhny, orang buta huruf yang membiasakan untuk dapat berkomunikasi setiap hari dalam tiga atau empat bahasa, bahkan dalam bahasa roh pun dengan kekerabatan sedikit linguistik atau tidak ada sama sekali.

3. GERAKAN SOSIAL DAN MEDIA MEREKA
Penelitian media juga sangat menderita. Diragukan bahwa sebagai akibat dari obsesi ini setiap orang akan menyesali apapun itu. Masalahnya adalah di prioritas penelitian, yaitu asumsi bahwa inti lokal, skala – kecil, cepat berlalu dari ingatan itu, fana, kekurangan dana, rendah nilai produksi, aneh, menunggu untuk tenggelam di bawah gelombang dan bertemu mereka yang jatuh tempo dan pantas dilupakan.

4. INTERPERSONAL DAN KELOMPOK PENELITIAN KOMUNIKASI DAN GURUN GOBI BESAR
Media komunikasi memprodusen media dan khalayak / pembaca. Banyak akal sehat di dalamnya. Buka berarti bagaimana beberapa wawasan menarik dengan tidak sengaja muncul sebagai hasilnya, tidak terkecuali di bidang komunikasi nonverbal. Tapi hampir seolah – olah mereka telah muncul walaupun bukan dengan cara apa pun, karena dengan adanya metode yang diterapkan untuk studi mereka. Jadi ini adalah panggilan yang mendesak untuk penciptaan kembali sebuah penelitian komunikasi interpersonal. Di mana menggunakan sumber seperti penelitian feminis, unsur – unsur antropologi budaya dan sosial dan deskriptif sosiolinguistik, akumulasi pengalaman penelitian kelompok yang terarah, novel cerita pendek, teater, lirik musik yang populer dan tentang psikologi.

5. KEBIJAKAN – PENELITIAN
Kebijakan penelitian komunikasi yang benar – benar diperlukan adalah penelitian yang dimulai dari posisi mendengarkan, kebiasaan memiliki telinga untuk waspada terhadap publik, bukan di eksploitas secara populer ke dunia. Sebenarnya ada cukup banyak penelitian yang muncul sekarang ini secara identitas etnis. Masalah penelitian yang utama adalah tetap di masa mendatang yaitu rasisme dan komunikasi.

6. HAM
Ada banyak alasan dari kemunafikan pejabat yang memberi jaminan prioritas hak komunikasi manusia bagi para peneliti. Mungkin terlalu jelas yaitu kebutuhan untuk menemukan saluran yang efektif untuk mempublikasikan pelanggaran hak asasi manusia secara berkelanjutan. Untuk peneliti komunikasi yang berkaitan dengan gender, mana yang berharap akan benar dalam beberapa ukuran semua peneliti, situasi hak asasi manusia dan sejarah harus sangat mendesak kandidat untuk perhatian sistematisnya.

7. PERAN AGAMA YANG DIABAIKAN
Ada sesuatu yang menjadi keengganan peneliti media saat memeriksa dimensi religius media, komunikasi dan budaya. Banyak peneliti media yang sekuler dalam orientasi kecil pribadi dengan agama. Tapi memungkinkan kebiasaan kita sendiru dari hati dan pikiran untuk mengalihkan kita seperti fenomena budaya dan media utama yang diizinkan.

8. TOPIK TABU DALAM KELAS SOSIAL
Itu tidak membuat konsep tersebut menjadi untuk dijelaskan semua, tetapi heuristik berbicara mengarah pada pertanyaan yang layak untuk ditanya, pertanyaan yang melampaui epiphenomena dari distribusi pendapat tentang gaya hidup yang kolektif. Itu tidak berati bahwa epiphenomenal adalah analisis yang tidak relevan. Tetapi dalam mode yang disetel untuk mengeksplorasi hubungan antara makro dan mikro k, konfliktual dan keselarasan secara bersamaan.

Expanding the Definition of Media Activism

Political activism in media is already rise in many factor that influenced the characteristic of each media. Media work has become central to advocacy work because of the economic conditions and ideological constraints corporate media conglomerates and their cohort in corporate public relations create for public action.
The mass media are tools, but they are also the necessary means for communicating with policy-makers and establishing public debate. it is strategic use of the mass media, and sometimes paid advertising, in support of community organizing to push public policy initiative. As media scholars and citizens working toward more democratic, public-run media systems, we have a lot to learn about the possibilities of using strategic media techniques. There are few financial resources available to people interested in anticorporate advocacy.
This chapter will examine four broad typologies of media activism to expand its definitions and increase the number of possible practices that are available to social movement actors. the four typologies are media reform movements, the alternative press, flak, and the strategic use of public relations and news writing techniques. As media scholars, we can look to the media activism within this movement for examples of techniques that work because of, and sometimes in spite of, political orientation.

Typologies I and II : Media reform movements and the alternative press
Media Studies scholarship on media activism tends to study media reform movements and alternative press. Some of the most well known work on media activism come from political economy scholar. Activist forms of media can appear in unlikely places, like on cable networks or even in the nightly news. McChesney and Nichol’s (2001) article is in fact a good example of the relationship between media reform movements and alternative press. The Nation provides an important forum for the discussion of media reform.
The foundations that support progressive publications also earmark their money for special uses rather than for general operating costs, which means that this funding does not support the basic costs that go to maintaining the press itself.
In essence, the right developed a set of alternative communication networks through which everyday people could connect with movement leaders. These networks through which everyday people could connect to tap into potential constituencies’ often loosely defined emotions and political sentimeters and direct them towards specific political action, electoral campaigns and fundraising goals.

Typology III : Flak
The right’s publicity organizations also enable them to pressure the mainstream media to cover their issues from their sources. This is called flak. Flak institutions essentially discipline the mass media through complaint. Powerful institutions with significant monetary resources can coerce media outlets to change their content, their ideological bent, and/or their personnel. Flak can also be directed at the media’s own contituencies, such as advertisers, stockholders, and major resources. Institution with significant recources, howeverm cab also work as flak institution, especially if they have the ability to embarrass or morally sanction the media and its corporate advertisers. Resources poor organization can also make use of current news stories in their respective issues as points of entry into the news media.

Typology IV : Techniques of strategic media advocacy
We have to look to the power organized people and their abilities to draw attention to and advocate for important political and social issues in other ways. By and large, this goal aims to turn social movement organizations into long-term sources for the news media – or at least making sure ine’s foot is in the door so that you can offer the news alternative naratives on social problems that the ones they typically offer.
To become successful at media activism, social movement organizations must institutionalize media strategies into their day-to-day-work. In other words, they must begin to function as credible information and news recources. News and entertainment media organizations have for a long time tapped visible victim advocacy organizations for stories on crime and crime victims.
Another set of practical media training techniques are directed at working journalist and journalism schools. Most of this training teaches journalist how to alter their professional practices and their demeanor on the job. Victim advocates have pushed the field of journalism to become more reflexsive about its coverage of crime and disaster, especially towards those supposedly most affected by the coverage : the victims. For victims and advocatesm victim-centered journalism education represents an intervention into victims and survivors’ roles in the news making process. It also represents the institutionalization of a victim perspective on crime and violence reporting within journalism schools. Another set of strategies utilizes newer entertainment media forms and combines them with more steadfast forms of media action, such as public service announcements.
Mass media are a contested terrain and the media activist practices of existing social movements. Many of these techniques aim to turn the news into more contested terrain, where social movements can serve as powerful news sources and steer public debate on important public issues.

 This blog migrated to https://www.mediologi.id. just click here