Friday, December 01, 2006

KOMUNIKASI TEROR = TEROR KOMUNIKASI

Akhir-akhir ini kalau mau diakui terjadi proses ketakutan atau kekuatiran yang menghinggapi benak masyarakat Indonesia. Rangkaian berita dan informasi yang melukiskan teror lalu lalang dan ditayangkan oleh media massa baik secara nasional maupun secara lokal.

Kita masih mengingat rangkaian kecelakaan fisik beberapa alat transpotasi massal, seperti kecelakaan pesawat terbang Mandala Air di Medan, kecelakaan kereta api dan beberapa kecelakaan minor kendaraan di Jakarta atau di daerah lainnya.

Kita masih sering melihat horor politik dengan cara kekerasan yang diperlihatkan dalam seluruh proses pemilihan umum kepala daerah. Ketidakpuasan dan amuk massa menjadi tontonan biasa dalam berita-berita politik. Korban politik tidak hanya dilihat sebagai korban politis tapi sudah mewujud dalam korban-korban fisis yang mengeluarkan darah dan kesakitan. Politik, emosi, darah dan kekerasan merupakan lingkaran yang seakan-akan jamak diperlihatkan dalam drama politik Indonesia.

Sekarang kita masih terteror dengan rangkaian korban akibat penyebaran virus flu burung. Informasi yang mengkuatirkan kalau tidak mau disebut menakutkan menyatakan bahwa penyebaran penyakit flu burung sampai tahap antisipasi pandemi. Informasi yang mengkuatirkan tersebut semakin ditambah dengan citra konstruksi media massa yang menyatakan belum adanya langkah signifikan dari pemerintah untuk setidaknya menangani flu burung secara komprehensif.

Rangkaian kekuatiran dan kecemasan masyarakat semakin terakumulasi dengan rangkaian wacana kenaikan harga BBM yang diikuti dengan rangkaian ancaman pemogokan dan demonstrasi penolakan kenaikan harga bahan bakar tersebut. Eskalasi kontroversi politik di kalangan elite pun tak terhindarkan dengan berbagai macam manuver politik yang dilakukan oleh para pejabat dan mantan pejabat republik ini.

Belum lagi dampak kenaikan BBM sudah membayang pada setiap benak keluarga Indonesia, setidaknya kenaikan BBM khususnya premium, yang disinyalir oleh detik.com, bisa mencapai harga Rp 4,000/lt. Kenaikan harga BBM jelas akan diikuti dengan kenaikan sejumlah harga bahan pokok (9 bahan pokok) masyarakat, kenaikan harga produksi barang dan jasa, kenaikan tarif angkutan kota atau antar kota, kenaikan tarif dasar listrik, kenaikan tarif air minum. Kita bisa membayangkan efek domino kenaikan harga BBM yang terjadi.

Terlihat sudah rangkaian kenaikan dan horor ekonomi sosial di depan mata. Dan itu semua tersaji di depan kita. Berbagai wacana komunikasi dikemukakan oleh para elite politik, ahli komunikasi, pakar ekonomi tentang apa yang terjadi di Indonesia. Tapi tetap saja kesan dan citra akhir yang ditangkap oleh masyarakat justru semakin jauhnya masyarakat dari soal kesejahteraan.

***

Horor sosial mencekam yang direkam dan dikonstruksi dalam proses komunikasi, terutama pada minggu dan bulan terakhir ini memperlihatkan kegalauan dan kegagalan sistem komunikasi yang sehat dan yang seharusnya dibangun oleh masyarakat Indonesia kontemporer. Sebenarnya masyarakat dan negara mempunyai potensi untuk mengembangkan sistem komunikasi yang sehat. Tapi kenyataan memperlihatkan komunikasi yang terbangun sekarang justru komunikasi sosial yang membangkitkan aura ketakutan dan kekuatiran baik secara psikologis dan fisik. Inilah komunikasi teror. Komunikasi yang dibangun dan menstimulasi respons ketakutan dan kengerian terhadap hal yang dihadapi dalam hidup sehari-hari.

Ada beberapa catatan kritis untuk mengomentari masalah dan kejadian-kejadian sosial akhir-akhir ini. Pertama, berkembangnya komunikasi ala pedagang-saudagar di mana transaksi ekonomi sosial masyarakat masuk dalam pola pengambilan keputusan publik. Komunikasi ala pedagang jelas hanya diatur melalui logika banal untung dan rugi, survive atau tidak. Logika libido keinginan ekonomi mereduksi kenyataan bahwa masih banyak masyarakat yang kurang beruntung

No comments:

 This blog migrated to https://www.mediologi.id. just click here