Wednesday, April 05, 2006

Teknologi, Media dan Globalisasi (konteks Indonesia)

TEKNOLOGI, MEDIA DAN GLOBALISASI

PENGANTAR

Sekarang ini sedang terjadi revolusi yang luar biasa menarik, mencengangkan dan sekaligus menantang bagi manusia. Revolusi ini menarik karena revolusi ini membawa perubahan terhadap pola dan struktur proses komunikasi manusia. Revolusi ini juga mencengangkan karena dari revolusi tumbuh dan berkembang teknologi informasi manusia yang pada akhirnya mampu untuk melampaui batasan ruang dan waktu. Revolusi ini juga menantang karena revolusi ini juga membawa pengaruh “tidak sehat” terhadap manusia yang gagap dan rakus “gelojoh” terhadap pola-pola kemudahan teknis yang ditawarkan oleh revolusi ini.

Ada revolusi yang sedang berlangsung dan dialami oleh umat manusia. Revolusi tersebut disebut dengan revolusi komunikasi. Revolusi komunikasi ini mengikuti jejak langkah revolusi sebelumnya, yaitu revolusi pertanian (revolusi paradigma nomadik ke arah hidup menetap), revolusi Perancis (revolusi paradigma sosial politik) dan revolusi industri (revolusi mekanika dan dinamisasi kapitalisme industrial). Revolusi komunikasi semakin berkembang dalam suatu asumsi bahwa komunikasi menjadi unsur yang vital dalam kehidupan manusia (Rogers, 1986; Naisbitt, 2001; Straubhaar, 2002).

Ketika informasi menjadi salah satu unsur konstitutif dalam suatu masyarakat, maka masyarakat mulai “mau tidak mau” membuka diri pada media massa dan komunikasi global. Perputaran produksi, konsumsi dan distribusi informasi semakin cepat dialami dan dimiliki oleh sistem masyarakat baru yang global dengan didukung oleh kekuatan dan ekspansi ekonomi, jaringan sistem informasi global serta terakhir disokong oleh teknologi.

Dengan mengukur perkembangan komunikasi dari pengaruh pra-lisan, tradisi lisan, tulisan, cetakan, media massa dan akhirnya telematika dapat disimak bahwa bagaimana lambannya gerakan proses kebudayaan komunikasi tersebut pada proses awalnya, tapi kemudian terakselerasi secara cepat dan massif pada era belakangan ini (Asa Briggs, 2002).

Teknologi dalam perkembangan arus produksi, konsumsi dan distribusi informasi memegang peranan penting. Urgensi peranan teknologi dalam proses massifikasi informasi terletak ketika hasil teknologi membantu mengubah pola komunikasi yang dibatasi oleh ruang dan waktu menjadi pola komunikasi informasi tanpa batas. Dengan demikian, pada dasarnya teknologi bersifat baik. Maka tidak mengherankan apabila terjadi perubahan dari media massa tradisional menjadi media massa baru. Pada akhirnya media baru dalam konteks teknologi dan globalisasi mengalami perubahan yang sedemikian kompleks. Globalisasi menjadi salah satu faktor penting dalam industri dan teknologi media komunikasi.

Makalah ini mau mencoba membahas dinamika hubungan antara teknologi, kebudayaan, keberadaan media massa dan globalisasi sebagai titik pijak dinamika menyolok dari revolusi komunikasi. Oleh sebab ini, penulis membagi makalah ini dalam tiga hal pembahasan besar. Pembahasan pertama adalah soal pemahaman dan persepsi teknologi secara umum. Kedua, penulis hendak mendiskusikan hubungan antara berbagai dimensi ekonomi dengan dinamika perkembangan teknologi komunikasi. Bagian ketiga, penulis mencoba mendiskusikan lebih lanjut industrialisasi dan teknologi komunikasi dengan struktur globalisasi sekarang berikut relevansinya di Indonesia.

PERSEPSI - KONSEP POKOK TEKNOLOGI

Anthony Giddens pernah menyatakan bahwa modernitas yang dikarakteristikan dengan kemajuan teknologi sudah menjadi kondisi yang tak terelakkan (Giddens 2001). Manusia sebagai subjek bisa dan mempunyai kemampuan untuk membuat teknologi, tapi pada satu titik tertentu manusia tidak bisa lagi mengontrol kemajuan teknologi. Teknologi sebagai entitas dinamis tidak bisa dikendalikan, termasuk ketika teknologi masuk mendorong perkembangan sistem informasi masyarakat.

Persepsi pertama yang mungkin harus kita perhatikan adalah persepsi pemahaman makna teknologi itu sendiri. Artinya, teknologi kiranya harus dilihat sebagai suatu keseluruhan kegiatan manusia. Ini berarti ketika kita melihat teknologi sebagai hanya sekedar barang buatan maka pemahaman tersebut adalah pemahaman yang dangkal. Teknologi setidaknya mempunyai aspek yang saling berhubungan, yaitu aspek teknis (mencakup pengetahun, kemampuan teknis, pola kerja berikut seluruh aktivitasnya), aspek organisasional (mencakup aktivitas ekonomi dan industri, aktivitas profesional, pemakai dan konsumen; di mana teknologi dilihat sebagai satu sistem dinamis), dan aspek kultural (mencakup tujuan teknologi, nilai - kode etik dan kreativitas) [Pacey, 1983].

Ciri pokok teknologi adalah bahwa teknologi selalu memuat dua faktor penting, yaitu efisiensi dan tujuan yang jelas. Efisiensi menyangkut konsepsi yang menunjukkan perbandingan terbaik antara suatu kerja dengan hasil yang didapatkan.

Teknologi sebagai kegiatan manusia yang bertujuan yang jelas artinya kegiatan manusia itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan, memecahkan masalah, atau mengatasi kesulitan tertentu. Tapi meskipun demikian, tetap diakui bahwa teknologi merupakan suatu perpanjangan tangan manusia (McLuhan, 1996; Naisbitt, 2001). Teknologi pada dasarnya memberikan tawaran nilai, yaitu bahwa pekerjaan manusia justru semakin terbantu dengan kehadiran teknologi. Dapat dikatakan bahwa teknologi pada suatu titik merupakan usaha manusia untuk membentuk dunia menurut persepsi dan pemahamannya. Dengan demikian, teknologi merupakan bagian dari kebudayaan manusia. Kebudayaan teknik ini lebih merupakan sistem kebudayaan yang membuat “alam kedua” setelah lingkungan di mana manusia terlempar.

Persepsi kedua yang mungkin harus dilihat lebih jauh adalah posisi teknologi dalam kebudayaan manusia. Adagium yang disepakati adalah bahwa teknologi adalah keseluruhan kegiatan manusia yang bertujuan untuk mempermudah kehidupan manusia. Ketika definisi teknologi memakai definisi di atas maka sebetulnya ada titik tertentu yang bisa menyatakan bahwa teknologi bisa dikatakan sebagai sebuah kebudayaan. Ketika teknologi dilihat sebagai suatu keseluruhan baik aspek nilai, organisasi dan objek material maka dapat dikatakan teknologi adalah kebudayaan -atau bisa dikatakan lagi- kebudayaan adalah teknologi. Namun di lain pihak, kita juga dapat mengatakan bahwa teknologi merupakan salah satu bagian dari kebudayaan. Memang hal ini membawa masalah tersendiri, tentang bagaimana kita harus memaknai teknologi.

Persepsi ketiga adalah beberapa keyakinan yang menyertai teknologi sebagai sebuah sistem dan praksis. Teknologi sebagai suatu sistem nilai dan praksis kerja yang mengikutinya berada dalam konstelasi proses progres atau kemajuan manusia. Dinamisasi efisiensi dan tujuan tertentu mau tidak mau mengandaikan sistem progres dalam teknologi (Pacey, 13-34). Efisiensi industri dan teknologi mengakibatkan mekanisasi, otomatisasi, massifikasi produksi dan konsumsi, ekspansi distribusi dan stabilisasi sumber alam yang dipakai untuk perkembangan teknologi itu sendiri.

Tingkat kemajuan atau perkembangan teknologi diharapkan semakin mempermudah kerja manusia. Artinya, keyakinan progres teknologi semakin menempatkan manusia sebagai penikmat hasil teknologi tanpa perlu mempertanyakan kembali bagaimana proses hasil teknologi itu.

Meski teknologi selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik, efisien, lebih murah, lebih mudah kepada manusia, tetap saja teknologi belum mampu menjawab misteri dalam seluruh proses penemuannya. Tingkat sofistikasi teknologi dan kebutuhan manusia juga membutuhkan tingkat keahlian (Pacey, 35-57). Tuntutan teknologi yang begitu canggih adalah kemampuan manusia yang tidak hanya memakainya tapi sekaligus membuat atau mereproduksi teknologi itu sendiri.

TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN STRUKTUR INDUSTRI EKONOMI BARU

Dalam bagian terdahulu, kita telah melihat beberapa kerangka konsep dan asumsi-asumsi yang perlu disepakati terlebih dahulu sebelum kita masuk dalam persoalan teknologi komunikasi. Beberapa asumsi dan persepsi di atas juga diberlakukan dalam teknologi komunikasi. Teknologi dalam masyarakat industri memampukan media massa untuk mengadakan pemusatan dan berubah menjadi media yang mampu menampung dan memampatkan sejumlah besar informasi dan kemudian didistribusikan secara massal atau individual secara serempak dan cepat (Rogers, 1986:2-6). Teknologi komunikasi tidak bisa dipisahkan dengan proses industrialisasi. Seluruh alasan ekonomi dalam industri mendapatkan alat untuk semakin memantapkan posisi ekonomi dalam teknologi (Albaran, 1996).

Di satu pihak, teknologi membuat landasan ekonomi baru yang lebih matang dan massif. Watak industri yang semakin dikukuhkan oleh teknologi adalah watak produksi, distribusi dan konsumsi untuk mencapai keuntungan. Industri modern dikelola dengan manajemen modern, organisasi yang lebih kompleks, modal yang lebih besar. Termasuk di dalamnya industrialisasi media (Dahlan, 2000). Tapi di lain pihak, industrialisasi, dalam hal ini industrialisasi media juga mempengaruhi perkembangan teknologi komunikasi baru.

Tentunya, perkembangan ekonomi baru ini dipicu oleh revolusi industri yang mengubah pola ekonomi manusia. Tapi tidak juga cukup kalau kita mau memahami ekonomi dalam masyarakat industri baru. Setidaknya peran teknologi dan komunikasi mempunyai andil yang cukup besar dalam membentuk dan merekonstruksi bangunan ekonomi baru yang ada sekarang. Kata kuncinya adalah PERUBAHAN.

Ekonomi baru berpusat pada soal kemampuan kita untuk menata, mengelola persaingan masa depan, kemampuan untuk menciptakan produk dan jasa baru, kemampuan untuk mengubah bisnis ke dalam bentuk yang lebih baru sekaligus bentuk yang cepat harus diganti. Dalam bahasa struktur ekonomi yang lazim digunakan adalah bahwa teknologi dimanfaatkan untuk semakin memaksimalisasikan barang, jasa, komoditas dan modal.

Relasi antara teknologi dan struktur dinamika ekonomi baru ini menyebabkan adanya beberapa perubahan yang cukup signifikan bagi masyarakat. Ketentuan baru dari industri teknologi baru adalah teknologi yang memerlukan lebih dari sekedar kecerdasan, kegesitan, dan kecepatan. Perlu suatu definisi ulang tentang nilai dalam ekonomi baru, di mana biaya teknologi yang digunakan bisa diminimalisasi.

Berikut ini akan disampaikan beberapa pertimbangan yang perlu dipahami dalam proses refleksi yang lebih mendalam atas kehidupan sosial-ekonomi yang berkembang dalam masyarakat kontemporer, terutama pola ekonomi baru yang dipengaruhi oleh teknologi komunikasi.

Pertama, ekonomi baru berlandaskan dasar, praktek pengetahuan serta profesionalisme penguasaan teknoologi informasi memberikan penegasan bahwa ekonomi didasarkan pada pengetahuan. Pengetahuan di sini juga dimaksudkan dengan kemampuan, ketrampilan pekerja. Isi pengetahuan dalam produksi dan jasa sedang bertumbuh secara signifikan sebagai ide konsumen. Informasi dan teknologi merupakan bagian faktor produksi. Kedua, digitalisasi. Perubahan teknologi dari teknologi analog ke digital memungkinkan komunikasi memuat informasi yang padat, kaya dari segala jenis secara bersama; dengan teknologi informasi, informasi dapat digabung, dikonversikan dan disajikan dengan berbagai bentuk.

Ketiga, virtualisasi. Perubahan barang-barang, materi atau segala sesuatu yang fisis menjadi realitas yang maya. Ini berarti juga mengubah metabolisme realitas sosial dan ekonomi, jenis institusi serta kodrat ekonomi - hidup sosial itu sendiri[i]. Dalam level organisasi, terjadi perubahan bentuk institusi ke dalam lembaga yang lebih ada dan berfungsi di alam maya. Keempat, molekularisasi. Artinya bahwa ekonomi baru membentuk kesatuan-kesatuan unit ekonomi baru yang lebih kecil dan independen. Dengan teknologi informasi, sistem organisasi dan institusi ekonomi bertransformasi dalam realitas yang tidak lagi memperhatikan ukuran dan keterbatasan waktu-tempat. Unit-unit kecil ekonomi tersebut mampu menjadi dasar aktivitas ekonomi yang mandiri dan bersifat global.

Kelima, integrasi jaringan. Ekonomi baru adalah ekonomi yang didasarkan pada teknologi jaringan. Keterkaitan dalam networking memungkinan jaringan dalam berbagai tataran, lokal - regional - nasional - metropolitan - nasional - global. Keenam, mulai tidak adanya perantara dalam sistem ekonomi baru. Ini berarti bahwa ekonomi baru tidak begitu membutuhkan agen, broker, penjual. Bahkan sering terjadi bahwa pengecer atau lembaga media justru berada di tengah produsen dan konsumen. Teknologi dalam konteks kini memindah rancang bangun perhitungan yang multilevel dalam model yang lebih terintegrasi dalam jaringan.

Ketujuh, konvergensi. Konvergensi merupakan kata kunci ekonomi baru. Artinya, ada pemusatan kemampuan penggabungan media dan substansi ekonomi. Penciptaan kemampuan bergabung ini membentuk kemampuan yang lebih canggih. Peralatan, sistem, isi dan kendali informasi saling terkait satu sama lain. Kedelapan, inovasi. Artinya, inovasi adalah faktor penting dalam aktivitas ekonomi dan keberhasilan bisnis. Dalam arti ini juga, tingkat kemampuan kreativitas dan imajinasi manusia menjadi sumber nilai yang penting.

Kesembilan, prosumsi. Batas antara konsumen dan produsen menjadi “blur”. Konsumen informasi dan teknologi menjadi juga produsen ekonomi. Kolaborasi manusia dalam jaringan menjadi bagian dalam sumber-sumber informasi perusahaan multimedia. Pemakai bisa menjadi perancang. Kesepuluh, ketersegeraan. Kecepatan dan sifat segera informasi sangat penting dalam ekonomi baru. Perdagangan menjadi bersifat elektronik dalam seluruh transaksi serta komunikasi bisnis. Hal ini berpengaruh pada soal kondisi dan bentuk ekonomi yang pernah terjadi.

Sebelas, keterkaitan dan persaingan global. Sumber informasi dan media saling terkait dalam jaringan global, dengan interaksi tinggi. Persaingan lembaga ekonomi sekarang lebih bersifat global. Terakhir, diskordansi. Kontradiksi sosial yang bersifat massif muncul. Terjadi pertentangan antara sumber daya klasik dengan sumber daya yang baru, dibayar tinggi. Justru gap baru timbul dalam konteks ini, antara yang punya-miskin, tahu dan tidak tahu. Semua bersumber pada soal akses informasi dan ekonomi. Hal ini juga menumbuhkan potensi trauma dan konflik baru yang belum diantisipasi sebelumnya.

TEKNOLOGI, INDUSTRIALISASI MEDIA DAN MASYARAKAT INFORMASI

Teknologi dalam industrialisasi media sangat penting. Setidaknya industrialisasi media komunikasi membutuhkan teknologi untuk menjadi perpanjangan tangan yang efektif menaikkan skala keuntungan ekonomi yang diperoleh. Tapi tetap ada beberapa argumentasi yang perlu dikaji, selain argumentasi ekonomi. Pertama adalah argumentasi kultur komunikasi yang berkembang. Argumentasi ini mau memperlihatkan adanya perkembangan atau perubahan mobilitas manusia dan keterbatasan ruang dan waktu bisa mempengaruhi pola komunikasi manusia.

Kedua adalah argumentasi perkembangan sistem ekonomi, sosial dan budaya yang dihidupi oleh manusia modern.Setidaknya perlu dikaji soal relasi signifikan antara perkembangan sistem ekonomi, sosial dan budaya dengan soal urgensi pemanfaatan teknologi dalam industrialisasi media (Turow, 1997).

Ketiga, adalah argumentasi subjektif manusia yang selalu tidak merasa puas dengan perkembangan media komunikasi modern. Alat komunikasi perlu disesuaikan dengan pola pikir dan pola tindakan manusia setempat

Beberapa keyakinan yang menyertai teknologi sebagai sebuah sistem dan praksis. Teknologi sebagai suatu sistem nilai dan praksis kerja yang mengikutinya berada dalam konstelasi proses progres. Dinamisasi efisiensi dan tujuan tertentu mau tidak mau mengandaikan progres (kemajuan linear) dalam teknologi. Efisiensi industri dan teknologi mengakibatkan mekanisasi, otomatisasi, massifikasi produksi dan konsumsi, ekspansi distribusi dan stabilisasi sumber alam yang dipakai untuk perkembangan teknologi itu sendiri.

Industrialisasi produksi isi dan ragam media komunikasi berproses untuk semakin: konvergen dalam hal teknologi media yang ada, digital, mengoptimalkan teknologi serat optik dan teknologi jaringan pada simpul-simpul teknologi komunikasi modern (Dahlan, 2000). Industrialisasi distribusi isi dan ragam media juga akan banyak dipengaruhi oleh soal perubahan yang terjadi pada perangkat dan sarana media komunikasi itu sendiri. Tingkat mobilitas yang tinggi dalam distribusi media modern sudah menjadi tuntutan yang wajar dalam masyarakat informasi. Tingkat mobilitas dan arus lalu lintas informasi telah menjadi pola perubahan sistem distribusi dalam media massa. Selain itu, media komunikasi modern juga memusatkan pola duplikasi, sistem satelit, digitalisasi informasi jarak jauh, tele-text dalam seluruh proses distribusi media komunikasi modern.

Argumentasi hubungan teknologi dengan media informasi adalah logika perkembangan yang ekspansif proses komunikasi publik secara global. Masyarakat tidak bisa lagi mengelakkan diri dari proses komunikasi. Komunikasi sudah menjadi kebutuhan utama. Komunikasi membutuhkan media untuk menjadi penghantar (menyangkut teknologi informasi yang mempermudah manusia mengirim dan menerima pesan). Ketika ruang dan waktu menjadi faktor yang membatasi proses komunikasi maka diperlukan teknologi yang mengusahakan masalah tersebut. Teknologi komunikasi dibuat dan dikembangkan untuk menyokong proses komunikasi manusia. Perkembangan komunikasi sangat luar biasa. Perkembangan dramatik teknologi komunikasi tidak terletak pada soal sistem perangkat kerasnya saja tapi sudah menyangkut soal bagaimana membuat interkoneksitas jaringan komunikasi. Teknologi komunikasi bukan sekedar soal barang tapi juga soal teknologi jaringan itu sendiri.

Kalau kita mau membicarakan struktur industrialisasi media maka kita tidak memisahkan diri dari isi media dibuat dan diciptakan. Teknologi komunikasi merupakan perangkat yang membutuhkan biaya yang tinggi, dengan demikian hanya pemilik modal besar saja yang mampu menguasai teknologi. Maka tidak mengherankan apabila industrialisasi dan teknologisasi media komunika membawa industri media pada usaha konglomerasi.

Dalam perkembangan yang serupa industri koran telah berubah menjadi industri jaringan. Industri jaringan jelas memunculkan sejumlah pemain besar. Industri film, radio dan musik bukan lagi tumbuh secara vertikal tapi juga berkembang secara horizontal.

TEKNOLOGI MEDIA DAN GLOBALISASI

Dunia tanpa Batas adalah ungkapan yang kurang lebih tepat untuk menjelaskan kondisi dunia saat ini. Hubungan bisnis, pernikahan dan persahabatan antar manusia telah mengalami perubahan. Peluang yang tercipta antar negara semakin besar dalam berbagai aspek kehidupan. Perdagangan bebas dan hadirnya paham laissez faire yang mengakibatkan globalisasi, termasuk dalam bidang komersialisasi dan kepemilikan media massa. Hal itu menimbulkan perkembangan industri media yang pesat, menembus batas teritorial negara di dunia. Modernisasi adalah proses yang menempatkan masyarakat bergerak ke arah teknologi yang lebih maju dan kompleks. Globalisasi mengacu pada jaringan yang mengikat se cara bersama-sama berbagai negara di dunia.

Sistem komunikasi global dalam era globalisasi ditandai dengan kemajuan yang pesat dari bidang kepenyiaran dan periklanan. Hak siar secara audio maupun audiovisual adalah hak monopolis yang dilakukan oleh negara atau swasta. Periklanan komersial kini telah menjadi kekuatan yang mengontrol industri media. Industri barang dan jasa yang dipasarkan secara internasional dan menggunakan periklanan sebagai media pemasarannya. Agen periklanan mengandalkan media komunikasi untuk membuka dan menjangkau pangsa pasar. Oleh sebab itu, perusahaan barang dan jasa transnasional mulai berpenetrasi ke pasar-pasar lokal. Perusahaan iklan multinasional jelas mempunyai kekuatan modal yang besar dan kemajuan teknologi yang begitu canggih. Dengan demikian, periklanan telah menjadi satu sumber penghasilan perusahaan media massa.

Periklanan komersial kini banyak diterapkan oleh sedikitnya 95 sistem televisi di dunia (Cockkerham, 1999). Pada akhirnya perkembangan teknologi iklan mempengaruhi komersialisasi penyiaran dunia.

Pertumbuhan dan modernisasi teknologi komunikasi juga mendorong perkembangan perusahaan transnasional, baik yang bergerak di bidang media dan non-meida, guna memfasilitasi pengoperasian perusahaan tersebut, sehingga dapat membawa dan memperluas bisnis mereka mencapai berbagai negara lainnya. Dengan kata lain perkembangan teknologi komunikasi turut memfasilitasi dan memudahkan perkembangan ekonomi dunia melalui perusahaan transnasional.

Perkembangan industri elektronik dan teknologi komunikasi telah membawa perubahan dan mendukung keberadaan bisnis perusahaan transnasional. Berbagai akibat dirasakan dalam seluruh perkembangan teknologi dan ekspansi perusahaan media global. Kehadiran satelit dalam seluruh sistem kepenyiaran mendorong dan memperbesar signal televisi dari perusahaan media global. Dengan membawa hiburan, informasi dan budaya, perusahaan media global mencapai ke tingkat masyarakat lokal.

Dengan demikian dalam perspektif global, informasi adalah hal yang krusial dalam operasi sistem perusahaan transnasional. Inilah yang menjadi alasan perluasan komunikasi internasional. Di mana k ebutuhan sistem bisnis internasional diharapkan dan dilayani dengan perluasan infrastruktur jaringan, data, informasi dan instalasi komunikasi di negara lain. Di sini terlihat bahwa teknologi memainkan peranan yang vital dalam menghadirkan skema baru. Teknologi mempunyai fungsi untuk integrasi sistem industri perusahaan dan memperdalam kemampuan pengetahuan serta pemerataan akses informasi yang lebih luas.

PROBLEM POTENSIAL DALAM TEKNOLOGI MEDIA MODERN

Perkembangan informasi dan teknologi komunikasi mempercepat dinamika pesan dan informasi yang dikirim dan diterima oleh manusia. Proses akselerasi informasi tersebut membuat proses kejenuhan dan overloading informasi yang pada akhirnya membuat informasi tidak lagi dilihat sebagai kebutuhan yang perlu melainkan sebagai sambilan sementara informasi hiburan dan komersial.

Kemajuan teknologi sering dalam seluruh proses pengembangannya tidak bisa disangkal akan mereduksi dan mendeterminasikan peran informasi dalam seluruh sistem masyarakat. Berbicara tentang teknologi media maka ukuran yang empirik ada adalah soal eksistensi media komunikasi. Padahal teknologi bukan sekedar soal barang tapi juga soal sistem nilai yang berada di balik teknologi itu sekaligus implikasi logis terhadap masyarakat. Apakah dengan demikian informasi bisa dilihat dan diukur secara empirik.

Permasalahan potensial yang lain dan layak di kaji adalah bahwa teknologi komunikasi menimbulkan persoalan akses, yang pada akhirnya akan berhubungan dengan soal kekuasaan dan kapital. Siapa yang bisa menjamin pemerataan informasi dan teknologi ?

Selain permasalahan di atas, terdapat masalah yang sangat krusial, yaitu masalah deregulasi media modern. Jangan dilupakan bahwa berbagai deregulasi komunikasi dan telekomunikasi merupakan pemicu perkembangan teknologi komunikasi dan telekomunikasi. Pengembangan sistemik pada jasa komunikasi membawa pengaruh yang sangat jauh pada soal kompetisi, efektivitas, pengembangan aplikasi media komunikasi baru.

Permasalahan yang tidak kalah penting adalah perkembangan media baru, yang mempunyai tingkat teknologi dan kemampuannya bisa menghindari regulasi, seperti internet. Memang dirasakan internet memberikan sumbangan konstruktif kepada manusia, tapi tetap saja ada persoalan “kebebasan” yang tidak terkontrol atas efek internet pada masyarakat.

DISKUSI UNTUK INDONESIA

Indonesia jelas tidak mungkin menghindar dari perkembangan dan revolusi informasi global. Namun dapat dikatakan bahwa industrialisasi di Indonesia terbilang terlambat. Ketika media Indonesia mengalami industrialisasi media yang cukup marak, media di negera-negara industri sudah beranjak pada level perkembangan dunia pasca industri di bidang informasi. Dapat dikatakan bahwa media di Indonesia sekarang ini sudah bisa dikatakan sebagai “media tradisional”.

Beberapa waktu yang lalu, media di Indonesia masih dilihat dan bangga disebut sebagai media perjuangan. Masalahnya adalah apakah memang dengan tingkat teknologi media yang berkembang sampai sekarang, tetap dapat dikatakan bahwa media di Indonesia adalah media perjuangan ? Akselerasi, kompresi dan literasi masyarakat Indonesia terhadap media sudah mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Tapi apakah memang perkembangan masyarakat informasi di Indonesia telah diikuti oleh pengembangan sumber manusia yang melimpah ini ?

Perkembangan masyarakat informasi tidak hanya diikuti dengan soal pembaruan teknologi saja, tapi juga harus diikuti dengan orang di balik teknologi tersebut. Bukankah demikian ?

Selain itu, penulis menganggap perlu untuk mencoba mendiskusikan masalah teknologi dan industri komunikasi di Indonesia. Pertama, Industri buku dan majalah di Indonesia memang sudah berkembang. Industri buku berkembang ditandai oleh perkembangan industri buku lokal, dan nasional. Tapi tetap saja beberapa masalah yang mengikuti perkembangan buku dan majalah di Indonesia. Penghargaan terhadap industri buku masih rendah dengan bukti adanya dan begitu maraknya pembajakan buku di mana-mana. Ini persoalan sendiri, karena hal itu menyangkut soal hak cipta. Industri serta teknologi buku dan majalah di Indonesia tetap dimiliki oleh industri-industri kaya dan padat modal. Hal yang bisa ditarik dari hal ini adalah bahwa industri buku dan majalah di Indonesia belum bisa melepaskan diri dari pola ketergantungan ekonomi yang mengikatnya. Ketergantungan ekonomi akan mempengaruhi pola isi yang mau ditawarkan kepada masyarakat.

Kedua adalah masalah teknologi dan industri surat kabar di Indonesia. Indonesia sedang mengalami reformasi media massa. Berbagai macam koran, majalah, TV dan radio. Surat kabar adalah industri media massa yang masih dipercaya. Perkembangan industri surat kabar masih bisa dipertahankan dibandingkan dengan portal-portal dot com yang pernah ada di Indonesia.

Meski demikian tetap ada masalah yang perlu diperhatikan. Hal yang pertama harus dilihat adalah kecenderungan kepemilikan dan persaingan tidak sehat dengan cara konsentrasi industri media oleh konglomerat media tertentu dapat memicu masalah baru, yaitu masalah monopoli kebenaran, proses elitisme surat kabar dan lainnya. Lalu tetap harus diakui bahwa tingkat melek media masyarakat Indonesia tidak bisa menjamin ada pembangunan surat kabar yang positif di Indonesia. Pasar dan masyarakat Indonesia dipegang dan dikendalikan oleh media.

Ketiga adalah masalah teknologi dan industri radio di Indonesia. Perkembangan paling penting dalam industri radio adalah kemunculan radio yang menggunakan satelit untuk transmisi berita dan jaringan radio 68H yang merupakan kantor berita radio pertama di Indonesia. Dengan jaringan lebih dari 200 buah radio di seluruh Indonesia, radio 68H bekerjasama untuk memperoleh dan menyiarkan berita.

Penyiaran berita memang merupakan hal yang agak baru untuk industri ini setelah puluhan tahun di bawah pemerintahan Orde Baru, berita dimonopoli oleh kelembagaan siaran pemerintah seperti RRI. Pasca orde baru memang terjadi peningkatan kuantitas stasiun radio. Dari data tahun 2000 saja, anggota PRSSNI tahun 1996 hanya beranggota 699 radio tapi meningkat menjadi 775 pada tahun 2000.

Perkembangan lainnya adalah bahwa boom perkembangan radio di Indonesia juga memanfaatkan kelengkapan telekomunikasi modern untuk semakin memperluas dan memperbaiki kualitas siaran radio. Sistem penggabungan dan pemanfaatan teknologi telekomunikasi dalam dunia radio memang memberikan aspek aktualitas dan akselerasi kecepatan berita dalam radio. Selain bahwa beberapa radio di Indonesia mulai mengembangkan spesifikasi atau spesialisasi siarannya.

Keempat, masalah teknologi dan industri televisi. Banyak pemain baru dalam pertelevisian Indonesia, selain yang sudah mapan dan lebih senior di Indonesia. Kehadiran stasiun televisi baru menambah perbendaharaan akses informasi bagi masyarakat Indonesia. Tapi meskipun demikian, pemain TV baru masih harus bekerja keras membangun infrastruktur karena struktur yang belum sempurna dibandingkan RCTI, SCTV, Indosiar, TPI atau TVRI. Oleh sebab itu, persaingan televisi di Indonesia tidak hanya persaingan isi dan jenis program acara televisi tapi juga persaingan infrastruktur.

Perkembangan televisi di Indonesia bisa dikatakan maju. Tumbuhnya stasiun TV baru di Indonesia juga semakin memperkecil Niche (celung.red) iklan bagi televisi tersebut. Masalah di sini adalah perkembangan televisi Indonesia juga membuka persaingan yang ketat dalam perolehan iklan.

Beberapa televisi bekerja sama secara sinergis dengan media lainnya, lihat TV 7 bekerja sama dengan beberapa penerbitan Gramedia. Hal ini akan menimbulkan masalah tentang kepemilikan silang media yang pada akhirnya harus ditanggapi secara bijaksana juga. Ada masalah etis dan sosial apabila masalah kepemilikan silang ini tidak dijernihkan.

Kalau kita mau memahami industri rekaman, khususnya rekaman musik mungkin kita harus memperhatikan beberapa unsur pokok dalam industri rekaman. Unsur pokok itu adalah para aktor rekaman (penyanyi, musisi, pengarang lagi dan sebagainya), perusahaan rekaman, dan distributor industri rekaman musik.

Dalam konstelasi industri rekaman di Indonesia, kita bisa melihat perkembangan yang cukup pesat. Perkembangan industri musik Indonesia telah menjadi salah satu bagian dalam konstatasi musik global terutama perkembangan musik di Asia Tenggara. Ditambah lagi bahwa industri musik Indonesia cukup terbantu dengan keberadaan MTV Asia yang menjadi garda depan promosi industri musik di Asia khususnya dan dunia pada umumnya.

Hanya memang dalam perkembangan industri rekaman, terjadi masalah yang harus tetap dikritisi, yaitu pertama masalah konsentrasi industri rekaman yang dihegemoni oleh perusahaan semacam EMI, BMG music, Sony Music dan lainnya. Masalah hak cipta dalam industri rekaman. Masalah krusial industri rekaman adalah masalah pembajakan. Sampai sekarang belum ada penyelesaian yang tuntas dengan masalah pembajakan industri rekaman di Indonesia.

Keenam adalah masalah teknologi dan industri film dan video di Indonesia. Kelesuan industri film di Indonesia dimulai ketika terjadi perubahan minat pasar film Indonesia yang cenderung menyukai tema sex dan darah. Hal ini semakin diperparah dengan biaya produksi yang tinggi ketika terjadi pembuatan film yang bermutu.

Masalah lain adalah masalah pembajakan dan modifikasi bentuk serta format film ke dalam hal yang lebih ringkas. Di satu pihak membantu dan mengembangkan teknologi film tapi di lain pihak tidak bisa dipungkiri bahwa film juga akan terpengaruh dengan menurunnya minat penonton bioskop.

Aspek organisasi ekonomi politik industri film di Indonesia yang belum mendapatkan bentuk yang lebih jelas. Konsentrasi industri dan integrasi ekonomi belum mendapatkan bentuk yang lebih konkret dalam seluruh perkembangan industri ekonomi film dan video di Indonesia.

Perkembangan teknologi internet di Indonesia juga menarik untuk dibahas. Yang jelas, pemanfaatan industri dan teknologi internet di Indonesia bukan main luar biasa perkembangannya. Hanya memang kita masih belum menjadi bangsa yang mampu memproduksi program atau isi internet secara lebih luas. Perkembangan industri dan teknologi internet di Indonesia patut dihargai, tapi ada hal-hal yang perlu dikritisi juga.

Penguasaan dan monopoli kepemilikan industri informasi oleh sekelompok kecil orang ditengarai dapat menciptakan monopoli dan juga penguasan pasar maupun pengaruh.

Menyangkut soal hak kekayaan intelektual. Internet dan komputer sangat membuka kemungkinan terjadinya duplikasi, plagiarisme, pembajakan hak intelektual. Hal itu ditambah lagi dengan bahawa Indonesia belum mempunyai hukum yang jelas dalam bidang teknologi informasi ini. Kejahatan-kejahatan internet belum mampu diakomodir oleh sistem hukum Indonesia. Intervensi pemerintah diperlukan untuk mengatasi penyalahgunaan hukum teknologi informasi yang masih relatif baru ini.

Terakhir adalah soal rendahnya kontrol budaya masyarakat yang dipengaruhi oleh internet. Artinya, soal relativisme budaya, pornografi, aktivitas kekerasan sangat mudah diakses oleh siapa saja. Hal ini pada akhirnya mempunyai masalah yang panjang. Siapa yang harus disalahkan ? Teknologi internetnya ? Orang yang berada di balik teknologi dan industri internet ? atau orang yang mengakses internet ?

WACANA AKHIR: Langkah Ke Depan

Masalahnya adalah apakah memang orang Indonesia benar-benar siap melangkah menjadi masyarakat informasi. Bagaimana perkembangan citra dan budaya teknologi informasi di Indonesia. Dengan demikian, perkembangan teknologi komunikasi mencakup persiapan masyarakat informasi di Indonesia. Ada beberapa pertimbangan yang perlu ditarik dalam hal ini.

Pertama adalah soal penentuan konsep teknologi dan masyarakat komunikatif macam apa yang mau dibangun. Pertanyaan tersebut bukan pertanyaan yang terlambat untuk dijawab sekarang ini. Masyarakat kita perlu mengadoptasi teknologi komunikasi tanpa meninggalkan nilai budaya setempat.

Kedua, perkembangan teknologi mempengaruhi transformasi sosial. Transformasi sosial yang seimbang dan sesuai dengan kekuatan sosial masyarakat. Transformasi itu meliputi integrasi optimisme industri dan teknologi komunikasi, pemberdayaan partisipasi masyarakat - kewenangan negara dan kekuatan swasta untuk semakin bertindak bertanggungjawab secara sosial, transformasi regulasi yang diperlukan untuk aturan main bersama terutama dalam hal perkembangan industri dan teknologi media, aspek transformasi kepemimpinan dalam menemukan dan menciptakan ekonomi baru sebagai perluasan lapangan kerja dan akses informasi yang lebih luas.

Ketiga, perubahan citra teknologi komunikasi itu sendiri. Perubahan citra teknologi komunikasi didorong untuk bisa menciptakan adopsi inovasi. Adapun adopsi teknologi inovasi itu meliputi pemanfaatan komparatif praktek hidup, kompatibilitas nilai dengan kebutuhan masyarakat, kesederhanaan pemakaian, tersedia setiap saat, terbukti bermanfaat.

Dengan demikian, teknologi komunikasi bisa diterapkan dalam masyarakat. Dan teknologi komunikasi semakin menjadi manusia semakin menjadi manusia yang utuh. Semoga !


DAFTAR PUSTAKA

Albarran, Alan B., 1996 Media Economics: Understanding Markets, Industries and Concepts, Iowa States University Press:Iowa

Briggs, Asa, 2002, A Social History of The Media: From Gutenberg to the Internet, Polity Press:Cambridge

Dahlan, Alwi, 2000, Perkembangan Industri dan Teknologi Media, makalah untuk pelengkap kuliah Industri dan Teknologi Komunikasi Semester Genap 1999/2000, Universitas Indonesia:Jakarta

Dizzard, Wilson, 1982, The Coming of Information Age, Longman:New York

Giddens, Anthony, 2001, The Third Way and Its Critics, SAGE:London

McKeown, Patrick G., 2001, Information Technology and The Networked Economy, Harcourt:Orlando

McLuhan, Marshall, 1996, Understanding Media:The Extension of Man, MIT Press:Massacusetts

Mirabito, Michael, 1997, The New Communications Technologies, Focal Press:Boston

Naisbitt, John, 2001, High Tech - High Touch: Technology and Our Search of Meaning: High Tech - High Touch, Inc: New York

Pacey, Arnold, 1984, The Culture of Technology, MIT Press:Massachusetts

Stevenson, Nick, 1995, Understanding Media Cultures, Social Theory and Mass Communications, SAGE:London

Straubhaar, Joseph dan La Rose, 2002, Media Now: Communication Media in the Information Age: Wadsworth:Australia.

Tapscott, Don, 1996, Digital Economy, McGraw HIll:New York

Toffler, A., 1980, The Third Wave, Morrow:New York

Turow, Joseph, 1997, Media System in Society: Understanding Industries, Strategies and Power, LONGMAN:New York

Williams, Frederick, 1992, The New Communications, Wadsworth:California

2 comments:

savio said...

Aku baru belajar mengenai komunikasi massa di The london School of Public relation, sangat menarik...ehm bisa bantu aku untuk mendapatkan bahan mengenai sejarah munculnya komunikasi Massa khususnya dalam televisi dan radio?THX...

savio said...

empiris dan kritis memang berlwanan sekali ya...aku baru belajar mengenai komunikasi massa.aku mahasiswa The London School,cukup menarik, namun sekarang aku sedang mempelajari mengenai munculnya sejarah komunikasi massa terutama televisi dan radio, Mba Eka punya bahanya? aku mau dong..

detiknews - detiknews

Loading...